Bicara Rasis Kepada Orang Batak, Wakil Dekan Di Uin Riau Akan Diberi Sanksi

Bicara Rasis kepada Orang Batak, Wakil Dekan di UIN Riau Akan Diberi Sanksi

Rektor UIN Suska, Riau
Rektor UIN Suska, Riau | today.line.me

Rektor UIN Suska sesalkan ujaran rasis wakil dekan

Heboh rekaman bunyi wakil dekan salah satu fakultas di UIN Suska, Riau yang rasis kepada orang Batak. Ucapan rasis yang disampaikan oleh Husni Thamrin itu lalu tersebar di masyarakat dan menciptakan geram.

Rektor UIN Suska, Profesor Akhmad Mujahidin, angkat bicara terkait pihaknya yang menyampaikan ucapan rasis. Akhmad menyesalkan ucapan rasis dari wakil dekan tersebut dan meminta Husni untuk segera meminta maaf ke masyarakat.

1.

Ucapan rasis ke orang Batak

Rektor UIN Suska, Riau
Wakil Dekan, Dr. Husni Thamrin | riaupos.co

Dilansir dari Media Indonesia, Sabtu (25/11/19), rekaman bunyi yang diduga bunyi pimpinan Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau yang berbicara mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) beredar. Ucapan tersebut keluar ketika dosen tersebut berdialog dengan mahasiswa.

Belum diketahui siapa yang merekam bunyi wakil dekan I, Dr Husni Thamrin ketika berkata rasis ke orang Batak. Ucapan rasis itu diketahui disampaikan di depan para mahasiswa di sebuah forum. Sebagai seorang yang mempunyai ilmu agama yang tinggi, perilaku Husni tersebut dinilai tak pantas.

Baca juga: Jadi Korban Bully di Sekolah, Gadis 12 Tahun Nekat Bunuh Diri di Depan Teman-temannya

“Pemberontak di UIN nih Batak semua, menghancurkan UIN, menghancurkan dunia Melayu, itulah Batak tu. Kau Batak kan, Batak keluar aja dari sini, Batak kurang etika,” begitu kata Husni dalam rekaman yang beredar dilansir dari Media Indonesia.

2.

Rektor UIN Suska angkat bicara

Rektor UIN Suska, Riau
Rektor UIN Suska, Riau | news.detik.com

Mendengar beredarnya rekaman bunyi dari Husni Thamrin yang bicara rasis kepada orang Batak, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau Profesor Akhmad Mujahidin, akan memberi hukuman kepada yang bersangkutan.

Akhmad mengaku ditelepon Gubernur Riau, Syamsuar untuk menuntaskan duduk kasus ini semoga konflik tidak meluas dan terjadi perpecahan.

“Pak Gubernur meminta kepada saya semoga masalah ini diselesaikan semoga tidak terjadi konflik SARA di Provinsi Riau. Dan duduk kasus ini dibutuhkan dapat diselesaikan dengan musyawarah dan kekeluargaan,” kata Akhmad Mujahidin usai pertemuan dengan Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) di Pekanbaru, Senin (25/11).

Baca juga: Tetap Semangat Kerja Meski Tangannya Patah Belasan Tahun, Kakek Ini Tak Pernah Mengeluh

Selaku Gubernur Riau, Syamsuar mengaku khawatir jikalau ujaran rasis tersebut dapat memecah persaudaraan hingga terjadi kerusuhan menyerupai di Papua.

“Kata gubernur ke saya, ‘Prof tolong dikanalisasilah, jangan hingga menyerupai Papua begitu. Jangan mencuat lagi dari Riau ini duduk kasus rasis lagi. Kabarnya tadi malam belum dewasa mahasiswa itu sudah lapor ke Polda’,” kata Akhmad.

3.

Sudah minta maaf

Untuk menghindari adanya konflik dan perpecahan menyerupai yang telah terjadi di Papua, Akhmad meminta Husni untuk segera meminta maaf kepada masyarakat terutama orang Batak. Mediasi antara mahasiswa Batak dan Husni karenanya digelar.

Baca juga: Perampok Ini Satroni Rumah Warga dalam Keadaan Telanjang, Alasannya Biar nggak Kelihatan

“Saya bilang, cepatlah minta maaf kepada yang bersangkutan. Orang Melayu itu ‘kan saling menengganglah, lalu minta maaf. Jangan hingga viral-memviralkan. Kabarnya kemarin sudah ada pertemuan dengan mahasiswa yang bersangkutan,” katanya.

Dalam sebuah video yang diunggah oleh channel YouTube Radar Pekanbaru terlihat Husni Thamrin yang duduk bersama salah seorang perwakilan mahasiswa Batak itu terlihat meratapi perbuatannya. Ia pun meminta maaf atas ucapannya yang menyinggung orang Batak.

“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Mari kita hidup rukun, tertib, damai. Dan ini sudah tersebar ke mana-mana, jangan ini dijadikan alat untuk berkonflik. Kami berdua sudah berdamai dengan mahasiswa saya,” ujar Husni.

Artikel Lainnya

Sebagai negara multikultural, menciptakan bangsa ini rentan sekali terjadi perpecahan. Terlebih jikalau adanya ucapan rasis dari suatu pihak yang membahayakan persatuan. Konflik di Papua tentu harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menghargai perbedaan.

Tags :