Biografi Sui Wen Ti 541-604 – Sang Kaisar Dari Cina

Mempersatukan negeri yang sudah awut-awutan porak poranda bukan pekerjaan orang sembarangan. Hanya orang-orang istimewa yang ditakdirkan punya kemampuan begitu. Dan Kaisar Cina Sui Wen Ti (nama aslinya: Yang Chien) termasuk salah satu. Dialah orang yang menyatukan Cina yang sudah terpecah belah selama beratus-ratus tahun. Persatuan politik, yang digarapnya sanggup bertahan hampir di seluruh abad-abad sesudahnya. Sebagai hasilnya, Cina bisa menjadi salah satu negeri yang terkuat di dunia. Hasil penting lainnya persatuan politik ini yaitu penduduk Cina yang terdiri dari hampir seperlima jumlah keseluruhan penduduk dunia tak begitu sering terguncang malapetaka perang ibarat dialami oleh para penduduk Eropa, Timur Tengah, atau bagian-bagian dunia yang lain.

Kaisar sebelumnya, Shih Huang Ti, telah menyatukan Cina di masa ke-3 SM. Dinastinya, dinasti Chin hancur awut-awutan tak usang setelah matinya, tetapi segera cepat tergantikan oleh dinasti Han yang memerintah seluruh Cina dari tahun 206 SM hingga 220 M. Sesudah jatuhnya dinasti Han, Cina masuk ke dalam rawa-rawa perpecahan dalam jangka waktu panjang. Buruknya bisalah disamakan dengan Eropa jaman masa gelap setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi.

Yang Chien dilahirkan tahun 514 dari sebuah famili yang berada, kompak, dan berwibawa di Cina Utara. Dia pertama kali peroleh posisi karier militer tatkala usianya gres empat belas tahun. Yang Chien mempunyai kemampuan dan naik melesat dengan cepatnya sebagai “abdi dalem” penguasa, kaisar belahan negeri sebelah utara dinasti Chou. Bantuannya melaksanakan pengawasan atas hampir seluruh Cina belahan utara tidaklah percuma lantaran tahun 573 puteri Yan Chien diperistri putera mahkota. Lima tahun kemudian Kaisar meninggal dunia. Tampaknya sang putera mahkota kurang punya kemantapan mental sehingga tak heran segera timbul kegoncangan perebutan kekuasaan. Dalam pertarungan itu Yan Chien muncul selaku pemenang, dan tahun 581 tatkala umurnya empat puluh tahun ia diakui sebagai Kaisar baru. Ternyata ia tidak cukup puas cuma jadi Kaisar untuk kawasan Cina Utara melulu. Sesudah melaksanakan persiapan cermat ia melancarkan penyerbuan ke Cina belahan selatan. Ini terjadi tahun 588. Penyerbuan itu berjalan secara kilat dan berhasil sehingga di tahun 589 ia mudah jadi penguasa seluruh Cina.

BACA JUGA :  Biografi Stan Lee – Penulis Komik Superhero Terkenal dan Terhebat

Selama pemerintahannya, Sui Wen Ti membangun ibu kota gres yang cukup luas untuk sentra kekaisaran pemersatu itu. Dia juga mulai pembangunan akses raksasa yang menghubungkan dua sungai terbesar di Cina: Sungai Yangtse di Cina Tengah dengan Sungai Hwang Ho (atau Sungai Kuning) di belahan utara negeri. Kanal ini yang rampung selesai di masa pemerintahan puteranya, menolong penyatuan antara Cina belahan utara dan belahan selatan.

Salah satu perubahan paling penting yang dilakukan oleh Kaisar ini yaitu menyangkut forum sistem penyaringan pegawai-pegawai pemerintah melalui ujian-ujian. Selama berabad-abad, sistem macam itu menciptakan Cina mempunyai pegawai-pegawai pemerintahan yang bermutu dan berkemampuan tinggi dan tak henti-hentinya mengisi orang-orang berbakat di kursi-kursi kantor pemerintah di seluruh negeri dan berasal dari segala tingkat sosial. (Pertama kali sistem ini sudah dirintis dalam masa dinasti Han, tetapi setelah jatuhnya dinasti itu terjadi masa kosong yang usang sekali sistem itu tidak dilaksanakan sehingga pengangkatan pegawai banyak ditentukan oleh faktor-faktor keturunan).

Sui Wen Ti juga mewajibkan berlakunya apa yang disebut “aturan pencegahan”: ketentuan bahwa pegawai pemerintahan propinsi dilarang berasal dari propinsi di mana ia dilahirkan. Ini merupakan suatu usaha pencegahan timbulnya kemungkinan-kemungkinan “favoritisme” dan usaha pencegahan jangan hingga seseorang pejabat membangun dan mempunyai imbas kekuasaan yang terlampau kuat.

Meskipun pada tingkat permulaan hukum ini memerlukan keberanian dan kemampuan dalam penerapannya, Sui Wen Ti senantiasa punya kewaspadaan dan perilaku cermat yang tinggi. Dia menghindari tindak serampangan dan sepertinya membarenginya dengan peringanan beban-beban pajak rakyat. Dan secara garis besar politik luar negerinya pun berhasil baik.

Sui Wen Ti sepertinya kurang punya dogma diri sendiri ketimbang umumnya penguasa dari penakluk-penakluk yang punya keberhasilan setara. Kendati ia merupakan seorang penguasa berhasil dan kuat kedudukannya dan daya genggamnya meyakinkan sekali atas jutaan penduduk, ia sepertinya ibarat ogah-ogahan kurang gairah dan melaksanakan sesuatunya lantaran terpaksa. Istrinya, perempuan yang berkemampuan, meski kelihatannya punya potongan menguasai suami seakan suami itu berada di bawah selangkangannya, ia merupakan pembantu dan pendamping yang baik, begitu tatkala usaha mencapai jenjang kekuasaan maupun pada ketika memerintah. Sui Wen Ti meninggal dunia tahun 604 pada umur tiga puluh tahun. Tersebar dugaan luas ia menjadi korban pembunuhan oleh putera nomor duanya (biji mata kesayangan sang permaisuri) yang kemudian menggantikannya.

BACA JUGA :  Biografi Dr. Sun Yat Sen – Tokoh Nasionalis Cina

Kaisar gres ini dibikin berabe dalam bidang politik luar negeri dan pada ketika bersamaan pecah pemberontakan melawannya. Dia terbunuh tahun 618 dan akhir kematiannya ini berakhirlah masa dinasti Sui. Tetapi, itu bukan berarti berakhir pula persatuan Cina. Dinasti Sui segera diteruskan oleh dinasti T’ang yang berkuasa antara tahun 618 hingga tahun 907. Raja-raja dinasti T’ang tetap mempertahankan dan meneruskan struktur pemerintahan ibarat digariskan oleh dinasti Sui, dan di bawah pemerintahan dinasti T’ang, Cina tetap bersatu. (Masa dinasti T’ang kerap dianggap masa terjaya Cina, sebagian lantaran kekuatan angkatan bersenjatanya, tetapi lebih dari itu disebabkan lantaran berkembang pesatnya kesenian dan kesusasteraan).

Seberapa pentingkah tokoh Sui Wen Ti? Untuk memberi kepastian terhadap pertanyaan itu, orang mesti mencoba membandingkannya dengan kerajaan Eropa yang jaya di ketika Charlemagne. Ada persamaan yang faktual antara karier kedua orang itu: sekitar tiga masa setelah runtuhnya kekaisaran Romawi, Charlemagne berhasil menyatukan kembali sebagian terbesar kawasan Eropa; hal sama, sekitar tiga setengah masa setelah runtuhnya dinasti Han, Sui Wen Ti berhasil menyatukan seluruh Cina. Charlemagne, tentu saja, jauh lebih kesohor di Eropa; tetapi sepertinya Sui Wen Ti lebih besar lengan berkuasa ketimbang Charlemagne. Pertama, ia berhasil menyatukan seluruh Cina, sedangkan banyak daerah-daerah penting di Eropa Barat (seperti Inggris, Spanyol dan Itali sebelah selatan tak pernah berhasil ditaklukkannya). Kedua, penyatuan yang digarap Sui Wen Ti langgeng, sedangkan kerajaan Charlemagne segera terpecah belah dan tak pernah berhasil menyatu kembali.

Ketiga, kemajuan kebudayaan dinasti T’ang diakibatkan –sedikitnya sebagian– dari kemajuan dan kemakmuran ekonomi yang ditimbulkan berkat penyatuan Cina secara politik. Sebaliknya, masa cerah yang berjangka pendek segera berakhir dengan matinya Charlemagne dan keberantakan kerajaannya. Akhirnya, forum ujian bagi pegawai-pegawai negeri yang digerakkan oleh Sui punya akhir jauh, mendalam, dan mendasar. Atas dasar kesemuanya ini-meskipun secara keseluruhan Eropa memainkan peranan lebih penting dalam sejarah dunia ketimbang Cina-toh Sui Wen Ti masih punya kelebihan dalam hal menghipnotis jalannya sejarah daripada Charlemagne. Sesungguhnya, amat langka raja-raja, baik di Cina maupun di Eropa, punya imbas begitu langgeng ibarat Sui Wen Ti.

BACA JUGA :  Biografi Aristoteles Onassis – Milyarder Sukses Yang Berawal Dari Kekurangan dan Kegagalan