‘Dokter Cantik’ Reisa: Taktik Jitu Pemerintah Supaya Masyarakat Lebih Adem Dan Taat Hukum Penanganan Covid-19?

‘Dokter Cantik’ Reisa: Strategi Jitu Pemerintah Biar Masyarakat Lebih Adem dan Taat Aturan Penanganan Covid-19?

dr. Reisa Broto Asmoro
dr. Reisa Broto Asmoro | keepo.me

Biar masyarakat lebih nurut dan nggak pembangkang lagi?

Sore kemarin (8/6/2020), ada yang sedikit lain dari biasanya di layar televisi ketika tim Gugus Tugas Covid-19 memberikan konferensi pers. Kolonel CKM dr. Ahcmad Yurianto memperkenalkan wajah gres yang mengisi tim komunikasi Gugus Tugas Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro.

Dokter Reisa muncul ketika penyampaian isu update kasus Covid-19 yang biasanya dituturkan oleh Achmad Yurianto. Mungkin sebagian publik sudah mengenal paras dokter berusia 34 tahun ini melalui beberapa tayangan acara televisi lokal atau akun media sosialnya. Namun kehadirannya sebagai salah satu juru bicara cukup mengejutkan dan sempat ramai di jagat maya.

Siapakah dr. Reisa Broto Asmoro?

Dilansir dari Tempo.co (9/6/2020), dr. Reisa sudah mulai dikenal masyarakat Indonesia semenjak mengisi acara DR Oz Indonesia tahun 2013 silam. Perempuan kelahiran Malang, 28 Desember 1985 ini merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dan Universitas Indonesia.

Usai menamatkan pendidikan, ia berkarir sebagai dokter Rumah Sakit Polisi Republik Indonesia Raden Said Soekanto Kramat Jati sebagai andal forensik. Uniknya, karirnya justru berawal di dunia hiburan semenjak masing di dingklik Sekolah Menengan Atas ketika mengikuti ajang pemilihan gadis sampul hingga menjadi model di sejumlah majalah serta iklan di Indonesia dan Asia.

dr. Reisa Broto Asmoro
dr. Reisa | pbs.twimg.com

Tahun 2010, ia menempati peringkat kedua di ajang Puteri Indonesia mewakili provinsi Daerah spesial Yogyakarta. Gelar sebagai Puteri Indonesia Lingkungan 2010 pun diterimanya dalam kontes tersebut.

Setahun berikutnya, ia turut serta dalam ajang Miss International 2011 mewakili Indonesia yang diselenggarakan di Tiongkok.

dr. Reisa Broto Asmoro
dr. Achmad Yuritanto dan dr. Reisa Broto Asmoro | newsmaker.tribunnews.com

Nama Broto Asmoro gres disematkan sehabis ia dipersunting seorang aristokrat asal Surakarta tahun 2012. Sebelumnya, ia dikenal dengan nama Reisa Kartikasari.

Saat ini ia masih sibuk mengisi jadwalnya yang padat di antaranya praktik di Klinik JMB Jakarta Selatan dan rutin menjadi pembicara dalam seminar-seminar kesehatan nasional serta bermacam-macam kegiatan sosial.

Kenapa dr. Reisa Ditunjuk sebagai Jubir Penanganan Covid-19?

dr. Reisa Broto Asmoro
dr. Reisa | parepos.co.id

Kehadiran dr. Reisa sebagai anggota gres tim komunikasi penanganan Covid-19 mengundang teka-teki; kenapa ia yang ditunjuk? Belum ada keterangan resmi baik dari pemerintah atau tim Gugus Covid-19 hingga artikel ini ditulis.

Achmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah bidang kesehatan pun seolah enggan menunjukkan keterangan. Ia menyarankan ke media supaya menanyakan pribadi ke timnya (Kompas, 8/6/2020). Ia hanya berkomentar singkat bahwa edukasi masyarakat yaitu hal utama yang harus dilakukan.

Kalau melihat rekam jejak dr. Reisa selama ini, ia memang sering dianggap sebagai ‘bukan dokter biasa’. Ia pernah menjadi salah satu anggota Disaster Victim Identification (DVI) korban kecelakaan pesawat Sukhoi dan bom teroris.

Selain itu, sang dokter juga aktif di media umum menyuarakan tawaran untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan, mengenakan masker, dan menaati setiap protokol penanganan Covid-19.

Sebelumnya cukup santer kabar tentang fit and proper test dokter ini yang melibatkan sejumlah pejabat inti pemerintah. Jika benar, maka alasan penunjukannya sebagai salah satu juru bicara tim komunikasi terang tidak sembarangan.

Support dan Optimisme untuk dr. Reisa

dr. Reisa
dr. Reisa | www.pikiran-rakyat.com

Lihat postingan ini di Instagram

Welcoming the new normal versi Indonesia Dalam beberapa hari kedepan, tampaknya kita akan dihadapkan dengan kebiasaan baru. Apa sih itu? Kebiasaan gres yaitu perubahan contoh hidup pada situasi pandemi covid-19 dengan adanya kebijakan membuka kembali kegiatan ekonomi, sosial dan kegiatan publik secara terbatas dengan memakai standard / protokol kesehatan yg ditetapkan oleh pemerintah. Artinya perkantoran, industri, tempat kerja sektor jasa & perdagangan akan diperbolehkan dibuka kembali untuk mendukung keberlangsungan perjuangan perekonomian negara. Hal ini tentunya HARUS disertai dengan penerapan protokol menjaga kesehatan yg Ketat & Disiplin dari masyarakat. Ingat, pastikan selalu menjaga kebersihan tangan dan jangan sentuh2 wajah dengan tangan yang kotor. Lalu pakai masker! Setiap waktu ketika berada di luar rumah. Dan pastikan benar penggunaannya. Kemudian ingat utk selalu jaga jarak. Minimal 1-2 meter dengan orang lain. Selain itu selalu terapkan Gaya Hidup Sehat menyerupai contoh makan gizi seimbang, minum air mineral yang cukup, rutin berolahraga dan istirahat / tidur yg cukup dan berkualitas. Stay safe & stay healthy lovely people 💕

Sebuah kiriman dibagikan oleh Reisa Broto Asmoro (@reisabrotoasmoro) pada 2 Jun 2020 jam 6:01 PDT

Nampaknya kehadiran sang dokter disambut hangat oleh publik terutama di dunia maya. Fakta bahwa dr. Reisa sarat pengalaman di bidang komunikasi yaitu salah satu sorotan. Dengan makin tingginya risiko penularan di ketika PSBB mulai dilonggarkan, jangan hingga semua himbauan dan edukasi kian terabaikan.

Salah satu akun twitter dengan username @selphieusagi berpendapat; terkadang isi pesan tidak bisa diterima dengan baik alasannya yaitu cara penyampaiannya yang kurang benar. Itulah yang menyulitkan cara menunjukkan pengertian ke orang-orang terkait ancaman Covid-19.

Nah, jikalau dr. Reisa yang ngomong, ia optimis warga akan lebih mendengarkan. Tambahnya, cara berkomunikasi dokter ini diacungi jempol.

Testimoni lain pun bermunculan menyiratkan pinjaman dan optimisme dengan ditunjuknya dr. Reisa sebagai anggota tim komunikasi Gugus Tugas Covid-19.

Semua bentuk pinjaman dan optimisme itu tentunya sangat baik. Di ketika ancaman Covid-19 masih eksis sedangkan situasi di beberapa kawasan mulai mengendor, kita butuh seni administrasi gres untuk saling menyadarkan dan merekatkan solidaritas di antara masyarakat.

Nah, kehadiran sosok dr. Reisa ini dibutuhkan bisa mewujudkan energi gres yang menguatkan kinerja tim Gugus Tugas dan masyarakat.

Sayangnya, terlepas dari portofolio dan rekam jejak kemampuan sang dokter, selalu ada respons yang kurang relevan dan terkesan konyol. Ya, apalagi jikalau bukan mengomentari penampilan bu dokter.

Banyak orang yang berkomentar soal paras cantiknya, dan bahkan sengaja membandingkan dengan penampilan juru bicara sebelumnya yang terkesan kaku dan membosankan.

dr. Reisa Broto Asmoro
Label manis dr. Reisa | www.keepo.me

Kita membutuhkan sosok dengan pengalaman dan skill yang berdampak positif pada tujuan penanganan Covid-19. Dan kebetulan dr. Reisa memenuhi persyaratan tersebut.

Barangkali ada yang beropini bahwa kebetulan saja sang dokter ini perempuan dan ‘good looking’. Toh, yang dibutuhkan yaitu kemampuannya, ‘kan?

Namun, kita juga sulit berkelit dari kenyataan hidup dalam dominasi sudut pandang patriarkis, yang ketika menyoroti sosok perempuan cenderung dilihat dari penampilannya saja.

Buktinya, temukan sendiri komentar-komentar khas perjaka terkait penunjukan dr. Reisa. Terjadi simplifikasi bahwa jikalau yang ngomong itu orang manis niscaya akan lebih didengarkan. Minimal ya mau menyimaknya.

dr. Reisa Broto Asmoro
Panprapa Yongtrakul | www.bangkokpost.com

Namun, harus diakui pula jikalau pengangkatan dr. Reisa ini yaitu seni administrasi jitu di tengah kekhawatiran bakal semakin tidak patuhnya masyakat pada hukum New Normal.

Entah ada hubungannya atau tidak, keputusan menunjuk dr. Reisa sebagai juru bicara Gugus Tugas Covid-19 ini menyerupai dengan kebijakan pemerintah Thailand mengangkat Panprapa Yongtrakul, Miss Thailand 2018, sebagai tangan kanan juru bicara satgas Covid-19 di negeri itu.

Artikel Lainnya

Apakah ini upaya meneduhkan dan membikin masyarakat terkait penyampaian kabar-kabar terbaru terkait Covid-19? Hal itu biarlah jadi pemerintah dan Tuhan yang tahu. Poinnya, yang kita butuhkan yaitu penanganan Covid-19 yang lebih baik.

Bukan sekadar bagaimana cara memberikan perkembangannya. Kalau dari penanganannya sudah bagus, tentu tidak akan ada beban untuk mengabarkannya, bukan?