Heboh Guru Agama Di Aceh Cabuli 6 Siswi Ketika Jam Belajar, Pelaku Ke Korban: Besuk Lagi Ya

Heboh Guru Agama di Aceh Cabuli 6 Siswi Saat Jam Belajar, Pelaku ke Korban: Besuk Lagi ya

Pelaku cabuli 6 siswinya
Pelaku cabuli 6 siswinya | news.detik.com

Rayu para korban dengan imbalan uang Rp. 5.000

Guru kontrak sebuah SD di Kota Banda Aceh, NAD, ditangkap usai melaksanakan pencabulan terhadap 6 siswinya. SB yang merupakan guru mata pelajaran Agama Islam itu diketahui gres dua bulan mengajar. Pihak sekolah tak menyangka kalau SB berani mencabuli siswinya sendiri.

SB diketahui melaksanakan pencabulan di kamar mandi bahkan ketika jam pelajaran berlangsung. Perbuatan bejat SB terungkap sehabis salah seorang korbannya melapor ke orangtua. SB berhasil diamankan polisi setempat. Ia mengaku memberi imbalan Rp5.000 kepada para korban setiap kali melaksanakan agresi cabul.

1.

Cabuli keenam siswi pelaku

Pelaku cabuli 6 siswinya
Ilustrasi pencabulan | regional.kompas.com

Dilansir dari Kompas.com, Rabu (27/11/19), enam siswi kelas IV sekolah dasar (SD) di Kota Banda Aceh menjadi korban pencabulan gurunya sendiri ketika jam berguru di ruang kelas. Pelaku melakukannya secara bergilir dalam kurun waktu dua bulan.

Tentu saja masalah ini menciptakan pihak sekolah kaget mendengar perbuatan bejat SB, guru kontrak yang gres mengajar selama dua bulan itu. SB sendiri merupakan guru mata pelajaran Agama Islam kelas IV.

Baca juga: Pilu! Sudah Makara Korban Perkosaan, Kini Gadis 12 Tahun Ini Idap Kanker Ganas

“Pelaku SB (39) merupakan guru kontrak mata pelajaran agama (Diniyah) dan olahraga di sekolah SD tersebut,” ujar Kapolresta Banda Aceh, Komisaris Besar Pol Tri Sutrisno, Rabu (27/11/19).

SB yang telah beristri itu tak disangka akan mencabuli siswinya sendiri. Terlebih yang menciptakan pihak sekolah semakin prihatin yaitu korbannya lebih dari satu.

2.

Melakukan pencabulan ketika jam pelajaran

Pelaku cabuli 6 siswinya
Pelaku ketika dihadirkan polisi dalam gelar kasus | news.detik.com

SB melaksanakan agresi pencabulan itu di tengah jam pelajaran. SB menyasar korban yang duduk di dingklik paling belakang. Sebelum beraksi, SB biasanya akan meminta siswi untuk membaca dan menghafal kitab. Ia kemudian duduk di samping korban dan meraba kemaluan korban.

“Pelaku mencabuli siswi ketika proses jam berguru berlangsung di ruang kelas, korban duduk di dingklik paling belakang kemudian pelaku eksklusif duduk di samping korban melaksanakan agresi cabul dengan cara meraba kemaluan korban,” lanjut Sutrisno.

Baca juga: Ayah Kepergok Setubuhi Putri Tirinya di Tempat Parkir, Pelaku Ngaku Suka Sama Suka

Pelaku kemudian meminta para korbannya untuk tak memberitahukan perbuatannya tersebut kepada siapa pun dan memperlihatkan imbalan Rp5.000. Pelaku juga terang-terangan meminta lagi untuk melaksanakan agresi cabul tersebut kepada korban.

“Kemudian pelaku juga mengucapkan kepada korban ‘besuk lagi ya’,” imbuhnya.

3.

Korban melapor ke orangtua

Pelaku cabuli 6 siswinya
Pelaku ketika dihadirkan dalam gelar kasus | news.detik.com

Ternyata agresi cabul yang dilakukan SB tak hanya dilakukan di dalam kelas, melainkan juga di toilet sekolah. Keenam korban pencabulan itu di antaranya berusia 8 sampai 12 tahun.

Baca juga: Gara-gara Bedak Ketiak, Gadis Ini Dikira Bawa Narkoba sampai Ditahan Polisi

Kasus pencabulan ini alhasil terungkap sehabis salah seorang korban melapor ke orangtua. Kasus ini kemudian diselidiki oleh anggota Polresta Banda Aceh. Mendengar perbuatan bejatnya terungkap, pelaku eksklusif melarikan diri. Tak lama, pelaku berhasil ditangkap di daerah Padang Tiji, Kabupaten Pidie.

“Pelaku ditangkap ketika melarikan diri di daerah Padang Tiji, Kabupaten Pidie, beberapa hari lalu,” pungkas Sutrisno.

Sementara para korban mendapat pendampingan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) untuk mendapat konseling dan menghilangkan stress berat yang dialami para korban.

Artikel Lainnya

Pelaku SB dijerat dengan Pasal 82 ayat 2 dan 3 UU RI Nomor 23 Tahun 2002 wacana Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 dan UU RI Nomor 17 Tahun 2016, dengan bahaya pidana penjara selama lima tahun.

Tags :