Kasus Penganiayaan Gadis Smp Di Pontianak, Puncak Gunung Es Bullying Di Indonesia?

Kasus Penganiayaan Gadis Sekolah Menengah Pertama di Pontianak, Puncak Gunung Es Bullying di Indonesia?

Bullying
Kasus penganiayaan AY di Pontianak membangkitkan perhatian masyarakat pada fenomena bullying di Indonesia | Keepo.me

Kasus AY angkat perhatian kita akan perisakan di Indonesia

Belakangan, viral kasus perisakan (bullying) terhadap seorang gadis Sekolah Menengah Pertama berinisial AY oleh segerombolan anak Sekolah Menengan Atas alasannya yaitu urusan sobat laki-laki. Detail mengerikan dari kejadian perisakan ini dibagikan secara gamblang melalui media umum dan berhasil meraih simpati masyarakat.

Akibat dianiaya, AY sekarang harus dirawat di Rumah Sakit. Ia dikabarkan mengalami banyak sekali luka dalam dan memar di beberapa bab tubuhnya. AY pun mengalami stress berat dan depresi jawaban perisakan dan penganiayaan yang diterimanya.

Kasus ini sekarang telah ditangani oleh kepolisian dan ditetapkan tiga tersangka berinisial L, TPP dan NNA. Ketiga tersangka yang juga masih berada di anak-anak itu terancam eksekusi tiga setengah tahun penjara.

Bullying
Fenomena perisakan di Indonesia | Keepo.me

Akan tetapi dilansir dari Detik.com, sesuai dengan UU Nomor 11/2012, maka akan dilakukan diversi atau pengalihan kasus dari ranah peradilan pidana ke luar peradilan pidana. Dengan kata lain, kasus ini tidak akan diselesaikan sebagai sebuah kasus pidana, atau berakhir ‘damai’.

Kasus yang menimpa AY ini hanya satu dari segelintir kasus perisakan di Indonesia yang berhasil naik ke permukaan jawaban parahnya efek lanjutan dari kejadian tersebut. Namun kasus ini mengungkap pula fenomena perisakan atau bullying di Indonesia yang ternyata tak sanggup dianggap enteng.

Menurut data KPAI, laporan kasus bullying kian meningkat. Hal ini sanggup diartikan sebagai semakin maraknya kejadian perisakan yang terjadi di kalangan anak-anak dan remaja, atau meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menindaklanjuti kasus perisakan.

Sedangkan UNICEF membeberkan bahwa 41 sampai 50 persen cukup umur di Indonesia pernah mengalami perisakan online. Perlu dicatat bahwa UNICEF juga menemukan para korban perisakan online ini kerap menjadi korban perisakan tradisional pula.

Bentuk perisakan yang diterima pun sanggup bermacam-macam. Mulai dari kekerasan fisik dan psikis ibarat yang dialami oleh AY, sampai revenge porn dan isolasi. Dampak jelek yang diterima dari perisakan juga sanggup macam-macam, mulai dari gangguan kesehatan mental ibarat depresi, stress berat dan gangguan korelasi sosial.

Artikel Lainnya

Melihat fakta ini, ada baiknya kita introspeksi kembali. Apakah kita salah satu yang melanggengkan budaya perisakan terhadap mereka yang kita anggap ‘salah’, ‘berbeda’ atau ‘lemah’? Bagaimana kita sebagai bangsa sanggup membuat lingkungan yang lebih kondusif serta tenang bagi anak-anak tanpa adanya bahaya perisakan?