Nggak Melulu Urusan Kopi Dan Senja, Inilah 10 Grup Band Indie Indonesia Favorit

Nggak Melulu Urusan Kopi dan Senja, Inilah 10 Band Indie Indonesia Favorit

band indie indonesia
Band Indie Indonesia favorit | www.pexels.com

Apa grup band indie Indonesia favoritmu?

Bicara soal musik indie Indonesia, perkembangannya cukup umur ini semakin mengesankan. Perdebatan perihal dikotomi indie dan non-indie pun masih sering mewarnai perbicangan para penggemar dan pengamat musik kontemporer.

Sudah 23 tahun lebih semenjak Pure Saturday melaksanakan terobosan sebagai grup band indie Indonesia merilis debut album dan menginspirasi kawula muda ketika itu untuk berani berkarya tanpa berharap memperoleh tiket rekaman dari korporasi label-label arus utama.

Terlepas dari segala kericuhan obrolan-obrolan remeh di media umum hingga tulisan-tulisan serius yang cenderung ‘berat’, musik indie Indonesia menabalkan identitas sekaligus prinsip perihal semangat swakriya atau lazim disebut DIY (Do It Your-self).

Tidak harus sambil ngopi cantik, inilah daftar grup band indie Indonesia

Belakangan tahun ini, musik atau grup band indie Indonesia kerap menjadi materi ajukan dengan stigma kopi dan senja. Barangkali alasannya yaitu penulisan lirik sebagian grup band indie hampir tak pernah lepas dari topik-topik tersebut.

Namun semesta musik indie Indonesia tidaklah sesempit itu. Ada banyak grup band indie Indonesia yang menyuarakan keresahan mereka atas kondisi Indonesia dengan cakupan tema yang meluas, bersahabat dengan keseharian, dan bahkan politis.

Langsung saja, inilah daftar grup band indie Indonesia yang patut didengarkan tanpa harus di waktu senja sambil menenggak kopi, apalagi yang sachetan.

1.

Grrrl Gang

band indie indonesia
Grrrl Gang | schedule.sxsw.com

Beberapa ahad lalu, grup band yang berasal dari Yogyakarta ini mengumumkan di akun Instagramnya bahwa mereka akan menjadi salah satu penampil di ajang pameran musik South by South West (SXSW) di Austin, Amerika Serikat tahun 2020.

Band yang terdiri dari tiga personel yaitu Angee, Akbar, dan Edo ini awalnya dibuat tahun 2016 demi mengisi waktu senggang selama kuliah. Setahun berikutnya, mereka merilis dua lagu berjudul Bathroom dan Thrills.

Perlahan, mereka mulai dikenal dan masuk ke dalam daftar grup band indie Indonesia generasi anyar, apalagi sesudah merilis mini album bertajuk Not Sad, Not Fulfilled bersama Kolibri Records tanggal 9 Oktober 2018.

Jika kau menyukai Veronica Falls, lagu-lagu yang diciptakan grup band indie Indonesia ini mungkin terdengar akrab. Selain nama grup band asal Inggris itu, Grrrl Gang kabarnya juga terinspirasi dari band-band sejenis ibarat Alvvays dan Talulah Gosh.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia, Angee, sang vokalis yang juga memainkan gitar, mengaku bahwa ia yaitu seorang feminis. Hal itu sanggup kau simak dari ide-ide yang ia wujudkan dalam penulisan beberapa lirik lagunya ibarat Guys Don’t Read Sylvia Plath.

Silakan dengarkan koleksi lagu-lagunya di sini.

2.

Zigi Zaga

band indie indonesia
Zigi Zaga | pophariini.com

Jika kau penggemar The Brandals yang pernah berubah menjadi menjadi BRNDLS namun kemudian balik lagi ke nama awalnya, mungkin tak absurd dengan grup band ini. Ya, Zigi Zaga merupakan grup band yang didirikan sebagai proyek dari Eka Annash (vokalis BRNDLS) bersama Wizra, Emil, dan Rika.

Nama Zigi Zaga dicetuskan oleh Rika, yang katanya diambil dari chant kaum Skinhead di Inggris yang biasa dinyanyikan selama menyaksikan pertandingan sepakbola atau di klab-klab minum.

Di grup band yang terbentuk tahun 2015 ini, Eka tidak hanya menyanyi, namun juga memainkan bass. Lini vokal juga diisi oleh Rika yang turut memainkan gitar. Empat orang dalam grup band ini dipertemukan sebagai rekan kerja di sebuah biro periklanan.

Awalnya, Eka tiba memperlihatkan ide sebuah grup band dengan format anggota dua perjaka dan dua cewek. Dua anggota sempat keluar, masing-masing yaitu penggebuk drum dan gitaris. Kedua posisi itu risikonya ditempati Wizra dan Emil. Nama yang terakhir juga dikenal sebagai anggota grup band Agrikulture.

Zigi Zaga telah merilis album bertajuk Phsyco Mob di tahun ini bersama sebuah label asal Bandung, Disaster Records. Album ini hasil kerja keras semua anggotanya selama nyaris 4 tahun memakai biaya sendiri dan hingga harus melaksanakan sesi rekaman di dua studio berbeda.

Zigi Zaga memegang kans besar untuk terus eksis dan menjadi salah satu grup band indie terbaik lewat tema-tema depresi, sosial, self-empowerment, dalam balutan elemen-elemen chaotic Glam Punk yang mentah dan liar.

Silakan dengarkan albumnya di sini.

3.

Heals

band indie indonesia
Heals | www.esplanade.com

Heals merupakan grup band indie yang berasal dari Bandung yang telah merilis album bertajuk Spectrum bersama FFWD Record tahun 2017. Band beraliran shoegaze ini beranggotakan Alyuadi (vokal, gitar), Reza (vokal latar, gitar), Ramdhan (gitar), Octavia (vokal latar, bass), dan Adi (drum).

Band indie Indonesia ini pernah mengisi Laneway Festival di Singapura tahun 2018 kemarin. Sebelumnya, mereka sudah mengisi panggung internasional dalam program Rocking the Region di negara yang sama.

Band ini cukup unik alasannya yaitu beberapa anggotanya terbiasa main di musik beraliran ekstrim ibarat Death Metal dan Grindcore, namun risikonya beralih memainkan genre yang sangat bertolak belakang.

Awalnya, mereka berniat membawakan konsep musik stoner dan tidak kepikiran memainkan musik beraliran shoegaze. Namun selama proses kreatif penggarapan album debutnya, mereka sering mendengarkan band-band dengan genre yang berasal dari Inggris Raya itu.

Tak heran jikalau kau mendengarkan Spectrum, beberapa kali akan mencicipi ambience yang serupa dari band-band ibarat My Bloody Valentine, Luminous Orange, My Vitriol, dan band-band sejenis lainnya.

Penasaran dengan grup band ini? Silakan dengarkan albumnya di sini.

4.

Mooner

band indie indonesia
Mooner | supermusic.id

Mooner yaitu sebuah super grup, setidaknya jikalau kita amati dari skena grup band indie. Band ini beranggotakan Rekti dari The SIGIT, Pratama dari Sigmun, Marsheila dari Sarasvati, dan Absar dari The Slave.

Band ini terbentuk awalnya sebagai proyek musik sampingan dengan Rekti yang sekaligus berperan sebagai produser. Band ini kadang disebut membawakan genre Heavy Rock dengan elemen-elemen mentah dari bunyi instrumen dan nada-nada progresif.

Sementara itu, dari penulisan lirik lagu, Mooner termasuk salah satu indie grup band Indonesia yang menciptakannya dalam abjad bahasa Indonesia yang besar lengan berkuasa dan isu-isu penting. Simak saja beberapa judul lagunya ibarat Buruh, Serikat Penyembuh, Ternganga, dan lain-lain.

Tahun 2017 lalu, mereka merilis album bertajuk Tabiat yang berisi 12 lagu bersama Bhang Records. Di tahun 2019, mereka kembali merilis album bertajuk O.M.

Mau dengar album terbarunya Mooner? Silakan putar di sini.

5.

Morfem

band indie indonesia
Morfem | mavemagz.com

Nakal, liar tapi sempurna sasaran. Demikian kebanggaan yang dituliskan oleh mendiang Denny Sakrie ketika mengulas musik dan lirik yang dibuat Morfem. Band yang dibuat pas Hari Buruh tahun 2009 ini sempat dianggap sebagai proyek isengnya Jimi Multhazam, sosok pegiat skena indie yang sudah tenar dengan The Upstairs.

Namun di tahun itu, Jimmi bersama Pandu, Freddie, dan Bram sukses memperkenalkan Morfem sebagai grup band yang bukan sekadar side project, meskipun masing-masing anggota sudah punya grup band utama.

Ada dongeng unik terkait grup band ini yang dibagikan Jimi dalam blog pribadinya. Dalam goresan pena di blognya, ia turut mengunggah foto dirinya bersama The Upstairs yang sedang manggung di Sekolah Menengan Atas Angkasa 2, tahun 2005. Di tulisannya itu, Jimi mengajak pembaca mengamati sosok pelajar yang berada di bawah panggung dan sedang serius merekam aksinya.

Enam tahun kemudian, pelajar Sekolah Menengan Atas itu sudah berada satu panggung bersama Jimi, memainkan gitar, dan bahu-membahu membesarkan Morfem. Anak itu yaitu Pandu Fathoni yang sudah dibaptis menjadi Pandu Fuzztoni. Julukan yang diberikan Henry Foundation dari Goodnight Electric.

The Upstairs memang salah satu grup band indie Indonesia terbaik. Tapi Morfem pun berhasil dengan karya-karyanya sebagai sebuah grup band bergenre Punk/Rock/Fuzztone/Noise/Pop, atau apapun sanggup kau sebut sesuai referensimu, friend..Demikianlah gaya tutur Jimi.

Simak lagu-lagunya Morfem di sini.

6.

Goodnight Electric

band indie indonesia
Goodnight Electric | www.insertlive.com

Tahun 2003, grup band ini dibuat oleh Henry Irawan yang kelak bakal lebih tenar dengan nama Henry Foundation. Bersama Bondi Goodboy dan Oomleo, Goodnight Electric mengusung aliran Synthpop, electronica, dan dance. Dua personel itu awalnya tampil membantu Henry dalam panggung live dan risikonya memantapkan gugusan dalam bentuk trio dance.

Tahun 2004, mereka merilis debut album bertajuk Love and Turbo Action yang disusul tiga tahun berikutnya dengan rilisan album bertajuk Electroduce Yourself. Bulan Agustus dan Oktober kemarin, mereka berturut-turut merilis dua single yakni VCR dan Erotika.

Lama tidak merilis single baru, mereka risikonya kembali dan memperlihatkan tajinya di tengah-tengah euforia musik electronik di skena indie yang cenderung monoton dan hampir ambyar. Dan hal ini pula yang menjadi alasan kenapa Goodnight Electric patut dimasukkan dalam daftar ini.

Mau dengar lagu barunya mereka? Cek saja di sini.

7.

The Panturas

band indie indonesia
The Panturas | www.provoke-online.com

Mendengarkan grup band indie Indonesia tidak semata-mata bersenandung dengan petikan gitar akustik dan hembusan angin di tepi hari sembari menyeduh kafein. Justru kalau mendengarkan The Panturas, rasanya kau ingin berlari ke pantai, mengambil papan luncur, dan menantang liarnya ombak pantai selatan.

The Panturas yaitu nama yang semakin bergema di skena indie grup band Indonesia, setidaknya bagi yang menggemari genre Surf Rock. Band ini dibuat tahun 2016 di Jatinangor yang notabene merupakan dataran tinggi tapi justru memainkan musik-musik khas pantai.

Band ini terdiri dari Gogon, Abyan, Ijal, dan Uya yang semuanya yaitu mahasiswa Universitas Padjajaran, Bandung. Untuk namanya sendiri, banyak yang menerka ada kekerabatan dengan genre yang dimainkan. Seperti kita tahu, Pantura sendiri merupakan kependekan dari Pantai Utara.

Tapi ternyata tidak, nama itu justru plesetan dari nama grup band Surf Rock legendaris asal Amerika Serikat, The Ventures. Oleh mereka, nama itu diparodikan biar terasa unsur kearifan lokalnya, dan jadilah The Panturas. Mereka sudah merilis album bertajuk Mabuk Laut tahun 2018 lalu.

Bagaimana sih lagu-lagu mereka? Dengarkan saja di sini.

8.

Barefood

band indie indonesia
Barefood | wethefest.com

Jika kau menggemari imbas fuzz dalam sentuhan distorsi yang halus, grup band yang digawangi oleh Rachmad dan Ditto ini sangat direkomendasikan. Barefood merupakan grup band indie lokal yang sukses dengan EP bertajuk Sullen di tahun 2013 yang dirilis oleh Anoa Records.

Tahun 2017, mereka kembali merilis dalam format album dengan sampul yang sangat ikonik, yakni seorang cewek yang menenggak sekotak susu.

Band ini bergotong-royong sudah usang dibuat yakni tahun 2009 dan terinspirasi sound agresif khas tahun 90-an semacam Manic Street Preachers, Ash, Seaweed, tapi dipadukan dengan gaya Shoegaze dan sedikit imbas dari band-band Post Hardcore gelombang awal.

Album mereka, Milkbox, sanggup kau dengar di sini.

9.

Efek Rumah Kaca

band indie indonesia
Efek Rumah Kaca | pophariini.com

Kalau ditanya siapa grup band indie lokal yang sensitif dan kerap mengangkat isu-isu nasional, niscaya tanggapan pertama yaitu Efek Rumah Kaca. Mereka makin tajam menyuarakan akan isu-isu nasionalisme pada album mereka yang ketiga yang bertajuk Sinestesia.

Album yang dirilis pada tahun 2015 ini mempunyai 6 lagu utama yang meyuarakan tentang, politik, pelanggaran HAM, televisi yang semakin sampah dengan tayangan-tayangan yang tak baik bagi masyarakat, juga perihal keberagaman.

Bahkan Efek Rumah Kaca ditunjuk untuk mengembangkan lagu pembuka untuk sebuah program televisi ternama di Indonesia yaitu Mata Najwa dengan mengembangkan lagu berjudul Seperti Rahim Ibu. Hal yang agak kurang lazim dialami dalam skena indie grup band Indonesia.

Dengarkan lagunya di sini.

10.

The Upstairs

band indie indonesia
The Upstairs | bicaramusik.id

Lirik jenaka dengan diksi-diksi tak terduga namun mengena. The Upstairs yaitu grup band indie yang semenjak debut EP pertamanya di tahun 2002, hingga kini masih aktif dan tahun kemudian merilis single baru berjudul Semburat Silang Warna.

Sempat mengalami beberapa kali pergantian formasi, The Upstairs tetap layak masuk dalam daftar grup band indie lokal yang kerap dibicarakan. Terlepas dari kharisma sang vokalis, Jimi Multhazam, ketika bersilat kata di atas panggung, grup band ini secara keseluruhan memang sangat memukau, baik di versi rekaman dan ketika pentas.

The Upstairs pun sukses menerjemahkan genre New Wave yang bagi generasi muda kurang begitu bersahabat menjadi terasa sangat bersahabat dan gampang dicerna, dan sekaligus menegaskan batasan yang lugas perihal bagaimana pendengar seharusnya sanggup membedakannya dari Disco.

Untuk single terbarunya, silakan didengarkan di sini.

Artikel Lainnya

Nah, itulah daftar grup band indie Indonesia yang direkomendasikan. Mungkin bagi kau yang membaca artikel ini punya pendapat lain perihal siapa saja yang layak menjadi grup band indie Indonesia terbaik. Namun itulah serunya menikmati musik sebagai ekspresi kebebasan dan kemandirian yang semestinya sanggup membuka mata dan pikiran kita.