Patut Ditiru, Pemerintah Sri Lanka Blokir Sosial Media Pasca Kejadian Bom Teror! Ini Alasannya

Patut Ditiru, Pemerintah Sri Lanka Blokir Sosial Media Pasca Insiden Bom Teror! Ini Alasannya

Hoaks atau penyebaran info tak benar pasca tragedi berarti membantu teroris

Trauma warga, korban meninggal, maupun luka-luka, ialah beberapa pengaruh yang terjadi sehabis insiden tragedi teror. Namun ada juga pengaruh kegelisahan masyarakat, agresi “teror” terus berlanjut di dunia digital apabila para penggunanya tak bijaksana menyikapi bencana.

Sri Lanka dilanda kedukaan besar sehabis sebanyak delapan bom meledak dan mengguncang di gereja dan beberapa hotel berbintang. Diberitakan sampai dikala ini korban meninggal sudah mencapai angka kurang lebih 200 jiwa, sedangkan sekitar 500 orang lainnya yang jadi korban mengalami luka-luka.

Kondisi gereja pasca ledakan bom teror | www.inews.id

Pemerintah mengambil langkah yang tampaknya juga patut ditiru di Indonesia, memblokir beberapa media sosial. Hal tersebut dilakukan untuk menghentikan “teror” dengan peredaran mis-informasi yang bisa saja ditambah atau dilebihkan sehingga menciptakan masyarakat semakin terpenjara dalam kegelisahan dan ketakutan, alasannya ialah memang itulah tujuan teror.

Media sosial ibarat Facebook, WhatsApp, dan Instagram akan diblokir Pemerintah Sri Lanka untuk jangka waktu sementara. Sekretaris kepresidenan Sri Lanka, Udaya Seneviratne mengatakan, kanal media umum akan dibuka kembali sehabis pemeriksaan akibat dilakukan.

Selain itu, guna mendukung penegakan aturan dan keputusan yang diambil Sri Lanka, Facebook berusaha menghapus konten-konten yang melanggar standar perusahaan.

“Tim Facebook telah bekerja mendukung responden pertama dan penegakan aturan serta mengidentifikasi dan menghapus konten yang melanggar standar kami,” lanjut Facebook (Tribunnews.com).

Melalui penuturan seorang warga Kolombo, Rishni Fernando menyampaikan bahwa semua media umum yang berada di bawah naungan Facebook mulai tak bisa diakses semenjak pukul 14.00 waktu setempat. Rishni menyampaikan sebelum diblokir sudah ada informasi hoaks yang menyebar.

“Sebelum WhatsApp diblokir, saya mendapatkan dokumen yang menyebut dua nama pelaku bom bunuh diri,” jelasnya.

Padahal proses pemeriksaan sendiri masih berlangsung, pemerintah Sri Lanka pun belum mengumumkan siapa pelaku peledakan. Hoaks lain juga diterima seorang warga Kolombo lainnya.

“Ide yang cantik untuk memblokir media sosial. Melalui WhatsApp, saya telah mendapatkan informasi nama laki-laki muslim sebagai pelaku bom bunuh diri, padahal pemerintah belum mengumumkannya secara resmi dikala ini,” jelasnya.

“Tidak memblokir media umum akan memicu koordinasi serangan dan pemberontakan melawan muslim,” terang warga yang enggan disebutkan namanya itu.

Ilustrasu blokir Facebok | www.otoritasnews.co.id
Artikel Lainnya

Langkah yang diambil pemerintah Sri Lanka ini sangat tepat, alasannya ialah akan bisa tetapkan rantai teror pasca insiden teror bom yang terjadi. Di Indonesia sendiri juga beredar banyak informasi hoaks wacana tragedi yang sedang terjadi di dalam negeri. Kadang ditambah-tambahi, kadang dikurang-kurangi, tak sadar bahwa hal tersebut sama saja dengan membantu para teroris, yaitu menyebar teror ke masyarakat luas. Menurutmu apa cara yang dilakukan pemerintah Sri Lanka dengan memblokir media umum harus diberlakukan di Indonesia juga?